Pages

Rabu, 28 November 2012

Cara Mendidik Anak yang Suka Membangkang

Tentu saja ada saatnya sesekali anak tidak patuh kepada orang tua, guru, pelatih, atau pengasuhnya. Namun biasanya sebuah tatapan yang keras atau teguran yang tegas sudah cukup untuk mengubahnya. Ada beberapa hal yang menjadi tanda bahaya bahwa anak Anda telah memasuki kategori "pembangkang".
  • Tidak hormat. Anak pembangkang bersikap kasar dan sangat tidak sopan.
  • Mementingkan diri sendiri dan buta terhadap perasaan orang lain.
  • Berjuang untuk mengendalikan. Seorang anak pembangkang akan menetapkan bahwa dirinyalah yang berwenang, melawan wibawa orang tua untuk dapat melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya tanpa berhenti.
Sikap dan perilaku membangkang anak bukanlah hal yang akan hilang dalam semalam. Anda membutuhkan pendekatan khusus untuk hal ini. Anda tidak hanya harus mengubah anak, tetapi Anda juga harus bersedia mengubah respons Anda sendiri terhadap anak. Ini membutuhkan komitmen, kesabaran, dan usaha keras, tetapi ini akan menjadi salah satu upaya paling penting dalam membesarkan anak. Membantu anak mengurangi pembangkangan tidak hanya akan memperbaiki hubungan Anda dan kehidupan keluarga, namun juga memberikan kesempatan yang lebih besar kepada anak untuk dapat berhasil dalam dunia sosial, sekarang dan di masa yang akan datang.

Tanda-tanda Anak Pembangkang:
  • Tidak fleksibel, sangat keras kepala, tidak mau mengalah, tidak mau melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain.
  • Tidak patuh.
  • Mempertanyakan atau menentang wibawa dan kewenangan orang tua.
  • Mudah marah, mengamuk, sering berteriak.
  • Mudah tersinggung, mudah terusik, terlalu peka.
  • Mendebat dan tidak mau menerima kekuasaan orang tua.
  • Mau menang sendiri.
  • Tidak mau mengakui kesalahan.
  • Kasar dan tidak memiliki rasa hormat.
Cari pola perilaku pada anak, tidak hanya pada satu waktu saja. Jika anda melihat perilaku-perilaku ini sering berulang, itulah saatnya untuk bertindak. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi anak yang suka membangkang.
 

Gali lebih dalam. Pembangkangan, sikap kasar dan tidak hormat tidak boleh dibiarkan. Namun bukan berarti Anda tidak perlu berusaha memahami mengapa anak bersikap demikian. Banyak penyebab sikap membangkang. Beberapa di antaranya yang paling sering terjadi adalah:
  • Tidak disiplin. Apakah cara mendidik anak yang Anda terapkan terlalu keras sehingga anak memberontak, ataukah terlalu lunak sehingga dia bisa lolos dengan sikap membangkangnya, atau cara mendidik anak Anda tidak konsisten sehingga anak bingung?
  • Hubungan yang retak. Apakah ada perpecahan dengan orang tua tertentu? Apakah Anda kekurangan waktu untuk bersama dengan anak? Apakah anak merasa tidak dicintai atau tidak dihargai?
  • Rasa kesal dan iri. Mungkinkah anak merasa iri terhadap saudara, teman sebaya, atau hubungan Anda dengan pasangan?
  • Perasaan tidak cukup. Mungkinkah dia membangkang untuk menutupi keyakinan dirinya yang rendah, merasa memiliki kekurangan, atau merasa bahwa dia tidak cukup baik?
  • Cemas atau stres. apakah ada tekanan berat bagi anak bahwa dia harus pintar, harus berprestasi, dsb? Apakah jadwalnya padat sehingga anak tidak memiliki waktu luang?
  • Tuntutan yang tidak adil. Mungkin tuntutan Anda tidak realistis atau tidak adil? Apakah tuntutan Anda sesuai dengan tingkat perkembangan anak Anda?
  • Perlakuan kekerasan. Apakah anak Anda diperlakukan secara tidak pantas? Pernahkah dia mengalami kekerasan verbal atau fisik?
  • Meniru. apakah dia meniru sikap seseorang?
Tanyakan pada orang lain. Mintalah masukan dari orang-orang yang peduli pada anak Anda, seperti kakek nenek, pengasuh, guru, atau pelatihnya. Menurut mereka, mengapa anak Anda begitu pembangkang? Amati bagaimana anak anda berinteraksi dengan orang dewasa lainnya. Apakah ada orang dewasa yang direspon anak Anda  tanpa sikap membangkang? Jika ada, analisis bagaimana cara mereka merespon dan cara mereka meminta kepada anak Anda. Adakah yang bisa Anda pelajari? Mungkin Anda bisa meniru respon orang tersebut menjadi bentuk respon baru Anda terhadap anak.

Identifikasi pemicu pembangkangan. Temukan hal-hal yang menjadi pemicu sikap membangkang anak Anda. Apakah anak menolak untuk melakukan semua hal yang Anda minta, atau hanya hal-hal tertentu saja? Anak-anak biasanya menurut dengan permintaan orang tua yang dia sendiri bisa menikmatinya.

Bijaksanalah dalam bertengkar. Anak-anak pembangkang cenderung mengubah segala hal menjadi perebutan kekuasaan yang berujung pada pertengkaran. Anda harus selektif memilah masalah yang Anda rasa penting (sekolah, PR, minum obat, akhlak, dsb.) dan membiarkan masalah yang tidak begitu penting (makan sayur, atau membereskan tempat tidur, dsb). Adakah yang bisa Anda hilangkan dari daftar pertengkaran yang parah? Apakah ertengkaran itu disebabkan oleh cara Anda meminta anak untuk menurut? Tujuan utama Anda adalah mengurangi pembangkangan dan menjadikan anak menurut. Salah satu cara untuk dilakukan adalah menyeleksi pertengkaran Anda dengan anak secara bijaksana. Daripada berusaha mengubah semua perilaku (dan akhirnya hanya sedikit yang berhasil), lebih baik prioritaskan pada masalah yang paling penting (misalnya menghilangkan umpatan atau makian).

Introspeksi diri. Mungkinkah anak Anda belajar cara membangkang dari Anda? Misalnya, apakah Anda memaksakan suatu hal kepada anak seperti Anda melakukannya kepada teman-teman Anda? Apakah Anda menolak mendengarkan permintaan keluarga ketika bernegosiasi/bermusyawarah di rumah? Apakah Anda menginginkan semua peraturan dipatuhi tanpa kecuali? Apakah Anda terlalu menuntut atau terlalu mengendalikan? Intinya adalah: Apakah Anda menampilkan sikap yang Anda inginkan untuk ditiru anak Anda? Anak-anak sedang meniru. Maka hati-hatilah!

Ingat-ingatlah respon Anda akhir-akhir ini. Bagaimana Anda menyampaikan permintaan kepada anak? Apakah Anda menyatakan permintaan dengan nada yang tenang dan menghargai, atau dengan berteriak, memaksa atau mengancam? Apakah Anda bersikap santun dan menunggu anak dengan sopan? Apakah Anda menuntut kepatuhan atau bersedia mendengarkan permintaan anak?

Tekankan Peraturan Emas ini: "Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan." Ajarkan pada anak untuk menanyakan pada diri sendiri sebelum dia melakukan sesuatu hal, "Apakah kamu mau diperlakukan seperti itu?"

Pengalaman dari Orang Tua

Setiap masalah kecil dengan anak saya yang berusia 12 tahun berubah menjadi perdebatan besar. Dia ingin mengendalikan. Saya akhirnya menyadari saya memperparah perilakunya dengan balik berteriak membentaknya. Trik saya kemudian adalah menyampaikan satu kali dengan tenang dan terus mengulanginya setiap kali dia menentang saya. Saya katakan, "Maaf, tetapi memang harus begitu." Atau, "Mama mengerti, tetapi begitulah peraturannya." Sebenarnya tujuannya adalah agar tidak didebat dan terjadi pertengkaran. Saya tahu ternyata saya melakukan hal yang benar ketika dia mengatakan, "Ada apa dengan Mama? Mama sudah berubah." Perbedaannya adalah: saya tidak terpancing untuk berteriak balik, sehingga dia tidak bisa menang, karena kami tidak berperang. Bagaimana mungkin dia memenangkan perang yang tak pernah terjadi?

1 komentar: